ANEUK PIJAY

ANEUK PIJAY
M45YKUR

Rabu, 26 Januari 2011

PERANAN GURU DALAM PELAKSANAAAN PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH


PERANAN GURU DALAM PELAKSANAAAN PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH
A.    PENDAHULUAN
Bimbingan dan konseling merupakan suatu program yang terintegrasi dalam keseluruhan proses pembelajaran. Kegiatan bimbingan dan konseling pada dasarnya adalah usaha sadar yang dilakukan oleh guru pembimbing bersama siswa untuk mencapai kemandirian dalam keseluruhan proses kehidupan, baik sebagai individu, anggota kelompok, keluarga atau masyarakat pada umumnya.
Di sekolah, guru sebagai pengelola proses pembelajaran, sering dihadapakan pada berbagai masalah. Dalam situasi demikian, kadangkala guru tidak dapat mengatasinya karena adanya keterbatasan pengetahuan atau keahlian yang dimiliki. Di sisi lain, guru diharuskan untuk melaksanakan Program Pengajaran, karena itu guru sebagai ujung tombak dalam proses pendidikan memerlukan rekanan kerja untuk menangani permasalahan para peserta didik,
Bila kita teliti pengertian bimbingan dan konseling terdahulu, maka pada prinsipnya tujuan program bimbingan dan konseling secara umum dan luas  di sekolah adalah untuk membantu peserta didik dalam mencapai kebahagiaan hidup pribadi, kehidupan yang efektif dan produktif di masyarakat, hidup bersama individu lain serta harmoni antara cita-cita dan kemampuan yang ada. Tujuan program bimbingan dan konseling di sekolah tidak terbatas pada para siswa tetapi mencakup keseluruhan masyarakat sekolah pada umumnya yaitu untuk kepentingan sekolah, siswa, guru dan orang tua siswa.

B.     MATERI
1.    Program bimbingan dan konseling
a.      Makna dan tujuan
Program bimbingan dan konseling merupakan suatu rangakaian kegiatan yang terencana,terorganisasi dan terkoordinasi selama periode waktu tertentu (Winkel, 1991). Prayitno, (2000) memberikan makna bahwa program bimbingan dan konseling (BK) adalah satuan nrencana kegiatan BK yang akan dilaksanakan pada periode waktu tertentu. Program ini memuat unsure-unsur yang terdapat di dalam berbagai ketentuan tentang pelaksanaan BK dan diorientasikan kepada pencapaian tujuan kegiatan BK di sekolah. Prayitno, dkk (1997) mengingatkan bahwa program-program kegiatan BK perlu disusun dalam bentuk satuan-satuan kegiatan yang nantinya akan merupakan wujud nyata pelayanan lansung bimbingan dan konseling terhadap siswa asuh.
Tujuan penyusunan program BK tidak lain adalah agar kegiatan BK di sekolah dapat terlaksana dengan lancar,efektif dan efisien serta hasilnya dapat dinilai. Program bimbingan yang disusun dengan baik dan rinci akan memberikan banyak keuntungan (Moh. Surya dan Rochman Natawidjaja, 1996), yaitu:
a.    Memungkinkan para petugas menghemat waktu, usaha biaya dan menghindari kesalahan-kesalahan dan usaha coba-coba yang tidak menguntungkan
b.    Memungkinkan siswa untuk mendapatkan layanan bimbingan secara seimbang dan menyeluruh, baik dalam hal kesempatan, ataupun dalam jenis layanan bimbingan yang diperlukan
c.    Memungkinkan setiappetugas mengetahui dan memahami peranannya masing-masing dan mengetahui bagaimana dan dimana mereka harus melakukan upaya secara tepat
d.   Memungkinkan petugas untuk menghayati pengalaman yang sangat berguna untuk kemajuannya sendiri dan untukkepentingan para siswa yang dibimbingnya
Dari uraian di atas tergambar bahwa efektivitas pelaksanaan kegiatan bimbingan dan kinseling disekolah akan terwujud bila kegiatan tersebut didukung oleh adanya program-program yang jelas dan tersusun secara sistematis sesuai dengan kebutuhan.
b.      Unsur – unsur program bimbingan dan konseling
Prayitno (2000) menjabarkan bahwa unsur-unsur yang harus diperhatikan dan menjadi program BK di sekolah adalah sebagi berikut:
a.    Jumlah siswa dibimbing:
1)   Guru Pembimbing                                          : 150 orang
2)   Kepala sekolah dari guru pembimbing                       : 40 orang
3)   Wakil kepala sekolah dari guru pembimbing      : 75 orang
4)   Guru kelas                                                       : satu kelas
b.    Kegiatan BK dilaksanakan di:
1)   Dalam jam belajar sekolah
2)   Luar jam belajar sekolah, maksimumnya 50%
c.    Unsur “BK-Pola 17”:
1)   Bidang-bidang bimbingan yaitu:
a)                Bimbingan pribadi
b)                Bimbingan social
c)                Bimbingan belajar
d)               Bimbingan karier
2)   Jenis-jenis layanan BK, yaitu:
a)                Orientasi
b)                Informasi
c)                Penempatan/penyaluran
d)               Pembelajaran
e)                Konseling perorangan
f)                 Bimbingan kelompok
g)                Konseling kelompok
3)   Kegiatan pendukung BK, yaitu:
a)                Aplikasi instrumentasi
b)                Himpunan data
c)                Konferensi kasus
d)               Kunjungan rumah
e)                Alih tangan kasus
d.   Volume kegiatan BK di sekolah:
a)      Layanan orientasi                                      : 4 – 6%
b)      Layanan informasi                                                : 10 – 12 %
c)      Layanan penempatan penyaluran              : 5 – 8%
d)     Layanan pembelajaran                              : 10 – 12%
e)      Layanan konseling perorangan                 : 5 – 8%
f)       Layanan bimbingan kelompok                  : 15 – 20%
g)      Layanan konseling kelompok                               : 12 – 15%
h)      Kegiatan aplikasi instrumentasi                : 4 – 8%
i)        Kegiatan himpunan data                           : 0%
j)        Kegiatan konferensi kasus                                    : 5 – 8%
k)      Kegiatan kunjungan rumah                                   : 5 – 8%
l)        Kegiatan alih tangan kasus                                   : 0 – 2%
Ada dua kegiatan pendukung yang persentase dari volume kegiatannya dapat dianggap 0% yakni kegiatan himpunan data dan kegiatan alih tangan kasus. Untuk kegiatan himpunan data artinya bahwa kegiatan itu dilaksanakan secara terus menerus tetapi persentasenya tidak dihitung,sedangkan untuk kegiatan alih tangan kasus mengandung makna bahwa sedapat-dapatnya tidak dilaksanakan, jika semua masalah peserta didik dapat ditanganioleh Guru pembimbing.
c.       Penyususnan program
Program BK di sekolah meliputi:
a.    Program harian, yaitu program yang akan dilaksanakan hari-hari tertentu dalam satu minggu
b.    Program mingguan, yaitu program yang akan dilaksanakan secara penuh untuk kurun waktu satu minggu dalam satu bulan
c.    Program bulanan, yaitu program yang akan dilaksanakan secara penuh untuk kurun waktu satu bulan tertentu dalam satu catur wulan
d.   Program catur wulanan, yaitu program yang akan dilaksanakan secara penuh dalam kurun waktu satu catur wulan tertentu dalam satu tahun ajaran
e.    Program tahunan, yaitu program yang akan dilaksanakan secara penuh dalam kurun waktu satu tahun tetrtentu dalam satu jenjang sekolah

d.      Pelaksanaan program
Dalam setiap program yang terimpelementasi dalam program harian diwujudkan dalam berbagai satuan layanan (SATLAN) dan satuan kegiatan pendukung (SATKUNG). SATLAN dan SATKUNG  inilah yang secara langsung dilaksanakan secara tatap muka dengan siswa yang dibimbing baik secara klasikal, kelompok atau perorangan.
Pelaksanaan isi program BK selalu dikaitkan dengan lima tahap kegiatan BK, yaitu:
a.    Penyusunan program
b.    Pelaksanaan program
c.    Penilaian hasil layanan
d.   Analisis hasil layanan
e.    Tindak lanjut
Penilaian hasil layanan dilakukan dengan memperhatikan prosedur penilaian hasil layanan BK, baik yang bersifat segera, penilaian jangka pendek dan penilaian jangka panjang. Guru pembimbing diharapkan melaksanakan kelima tahap tersebut dan pada setiap akhir semester Guru pembimbing melakukan penilaian menyeluruh terhadap hasil-hasil kegiatan BK yang akan dilaksanakan selama satu semester penuh.
2.    Bidang dan Jenis Layanan Bimbingan dan Konseling
1.      Bidang-bidang bimbingan
a.       Bimbingan pribadi,yaitu pelayan bimbingan dan konseling yang diarahkan untuk membantu siswa menemukan dan mengembangkan pribadi yanga beriman dan bertakwa terhadap Tuhan yang Yang Maha Esa, mantap dan mandiri serta sehat jasmani dan rohani
b.      Bidang bimbingan sosial,yaitu pelayan bimbingan dan konseling yang diarahkan untuk membantu siswa mengenal dan berhubungan dengan lingkungan sosialnya yang dilandasi budi pekerti luhur, tanggung jawab kemasyarakatan dan kenegaraan
c.       Bidang bimbingan belajar,yaitu pelayanan bimbingan yanga diarahkan un tuk membantu siswa untuk mengembangkan diri, sikap dan kebiasaan belajar yanga baik untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan, serta menyiapkannya untuk melanjutkan pendidikan pada tingkat yang lebih tinggi, atau mempersiapkan siswa untuk terjun langsung ke lapangan pekerjaan tertentu (khusus untuk SMK)
d.      Bidang bimbingan karier , yaitu pelayanan bimbingan dan konseling yang di arahkan untuk membantu siswa untuk merencakan dan mengembangkan masa depan karier (khusus di SMU), membantu mengenal potensi diri, mengembangkan dan memantapkan pilihan karier, serta mengembangkan keterampilan kejuruan dan aplikasi yang dipilhnya (khusus untuk SMK)
2.      Jenis-jenis layanan BK
a.       Layanan orientasi
Ditujukan untuk siswa baru dan untuk pihak-pihak lain terutama orang tua siswa guna memberikan pemahaman dan penyesuaian diri terutama penyesuaian siswa terhadap lingkungan sekolah yang baru dimasukinya, di samping itu juga mempermudah penyesuaian diri siswa terhadap pola kehidupan social, kegiatan belajar dan kegiatan lain yang mendukung keberhasilan siswa.
b.      Layanan informasi
Bertujuan untuk membekali individu siswa dengan berbagai pengetahuan yang dan pemahaman tentang berbagai hal yang berguna untuk mengenal diri, merencanakan dan mengembangkan pola kehidupan sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat.
c.       Layanan penempatan/penyaluran
Bertujuan untuk menempatkan dan menyalurkan kemampuan, bakat dan minat siswa agar berada pada posisi dan pilihan yang tepat yaitu berkenaan dengan penjurusan,kelompok belajar, pilihan pekerjaan atau karier, kegiatan ekstra kurikuler, program latihan dan pendidikan yang lebih tinggi ssesuai dengan kondisi fisik dan psikisnya.
d.      Layanan pembelajaran
Bertujuan untuk memungkinkan siswa memahami dan mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, keteramplilan dan materi belajar yang cocok dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya, serta tuntutan kemampuan yang berguna dalam kehidupan dan perkembangan dirinya.
e.       Layanan konseling perorangan
Memungkinkan siswa mendapatka layanan langsung secara tatap muka dengan guru pembimbing dalam rangka pembahasan dan mengentaskan permasalahannya.
f.       Layanan bimbngan kelompok
Dimaksudkan untuk memungkinkan siswa secara bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari berbagai sumber terutama dari guru pembimbing  yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari
g.      Layanan konseling kelompok
Memungkinkan siswa memperoleh kesempatan dalam membahas dan mengentaskan masalah y6ang dialami melalui dinamika kelompok.
3.      Kaitan jenis layanan BK dengan bidang bimbingan
Ketujuh jenis layanan yang ada dalam bimbingan dan konseling tersebut dalam pelaksanaannya memiliki kaitan langsung dengan bidang bimbingan yang ada. Setiap jenis layanan bimbingan dan konseling yang akan dilaksanakan dapat dikaitkan dengan bidang bimbingan yang dikehendaki. Ketujuh jenis layanan BK di sekolah dapat diarahkan kepada bidang bimbingan pribadi, bidang bimbingan sosial, bidang bimbingan belajar dan bidang bimbingan karir. Sehingga untuk semua jenis layanan terdapat 28 arah kegiatan layanan yang dapat dilakukan oleh Guru pembimbing.

C.    Penyajian Materi
1.      Peranan Personil Sekolah dalam Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah
Bimbingan dan konseling di sekolah merupaka kegiatan bersama. Semua personil sekolah (kepala sekolah,wakil kepala sekolah, guru pembimbing, guru mata pelajran, wali kelas) memiliki peranan masing-masing dalam melaksanakan program bimbingan dan konseling. Dalam hal ini guru pembimbing sebagai koordinator dan pelaksana utama.
1.      Kepala Sekolah
Sebagai penanggung jawab kegiatan pendidikan secara menyeluruh, khususnya pelayanan bimbingan dan konseling, tugas Kepa;la Sekolah adalah:
a.       Mengkoordinir setiap kegiatan yang diprogramkan dan berlangsung di sekolah, sehingga pelayanan pengajaran, latihan dan bimbingan dan konseling merupakan suatu kesatuan yang terpadu, harmonis dan dinamis
b.      Menyediakan prasarana, tenaga, sarana dan berbagai kemudahan bagi terlaksnanya pelayanan bimbingan dan konseling yang efektif dan efisien
c.       Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan pelaksanaan program,penilaian dan upaya tindak lanjut pelayanan bimbingan dan konseling
d.      Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah kepada Kanwil/kandep yang menjadi atasannya
2.      Wakil Kepala Sekolah
Sebagai pembantu kepala sekolah, wakil kepala sekolah membantu kepala sekolah dalam melaksanakan tugas-tugas kepala sekolah.
3.      Koordinator bimbingan dan konseling
Koordinator BK bertugas:
1)   Mengkoordinasikan guru pembimbing dalam:
a.    Memasyarakatkan pelayanan BK kepada segenap warga sekolah (siswa,guru, dan personil lainnya), orang tua siswa dan masyarakat.
b.    Menyusun program kegiatan BK
c.    Melaksanakan program BK
d.   Mengadministrasikan program kegiatan BK
e.    Menilai hasil pelaksanaan program kegiatan BK
f.     Menganalisis hasil penilaian pelaksanaan BK
g.    Memberikan tindaklanjut terhadap analisis penilaian BK
2)   Mengusulkan kepada kepala sekolah dan mengusahakan bagi terpenuhinya  tenaga,prasarana, dan sarana perlengkapan pelayanan BK
4.      Guru pembimbing
Sebagai pelaksana utama, tenaga inti dan ahli, guru pembimbing bertugas:
a.    Memasyarakatkan pelayanan BK
b.    Merencanakan program BK (terutama program-program satuan layanan dan satuan kegiatan pendukung, untuk satuan-satuan waktu tertentu, program-program tersebut dikemas dalam program mingguan, bulanan, semester dan tahunan).
c.    Melaksanakan segenap program satuan layanan BK
d.   Melaksanakan segenap program satuan kegiatan pendukung BK
e.    Menilai proses dan hasil pelaksanaan satuan layanan dan kegiatan pendukung BK
f.     Menganalisis hasil penilaian layanan dan kegiatan pendukung BK
g.    Melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil penilaian layanan dan kegiatan pendukung BK
h.    Mengadministrasikan kegiatan satuan layanan dan kegiatan pendukung bimbingan yang dilaksanakan
i.      Mempertanggung jawabkan tugas dan kegiatannya dalampelayanan BK secara menyeluruh kepada coordinator BK serta kepala sekolah
5.      Guru mata pelajaran dan guru praktik
Peranan guru mata pelajaran dan guru praktik dalam pelayanan BK adalah:
a.    Membantu memasyarakatkan pelayanan BK kepada siswa
b.    Membantu guru pembimbing mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan layanan BK serta pengumpulan data tentang siswa-siswa tersebut
c.    Mengalihtangankan siswa yang memerlukan pelayanan BK kepada guru pembimbing
d.   Menerima alih tangan dari guru pembimbing
e.    Membantu mengembangkan suasana kelas
f.     Memberika kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan layanan/kegiatan BK untuk mengikuti, menjalani layanan kegiatan yang dimaksudkan itu
g.    Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa seperti konferensi kasus
h.    Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian pelayanan BK upaya tindak lanjutnya
6.      Wali kelas
Sebagai pengelola kelas tertentu, dalam pelayanan BK wali kelas berperan:
a.    Membantu guru pembimbing melaksanakan tugas-tugasnya, khususnyadi kelas yang menjadi tanggung jawabnya
b.    Membantu guru mata pelajaran melaksanakn peranannya dalam pelayanan BK
c.    Membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa untuk mengikuti / menjalani dan atau kegiatan BK
d.   Berpartisipasi aktif dalam kegiatan khusus bimbingan dan konseling, seperti konferensi kasus
e.    Mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan BK kepada guru pembimbing
Manajemen pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah ditunjang oleh adanya organisasi, para pelaksana, program pelayanan dan operasional pelaksanaan bimbingan dan konseling. Organisasi pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah meliputi segenap unsur yang ada dengan organisasi berikut :
2.      Peranan guru dalam program Bimbingan dan Konseling di sekolah
Guru mempunyai peranan dan kedudukan kunci di dalam keseluruhan proses pendidikan, terutama dalam pendidikan formal bahkan dalam keseluruhan pembangunan masyarakat pda umumnya. Winarno Surakhmad (1969 : 1) menyatakan bahwa semakin sungguh-sungguh suatu pemerintahan dalam membangun negaranya, makin menjadi urgent kedudukan guru.
Peranan yang sedemikian itu akan semakin tampak jika dikaitkan dengan kebijaksanaan dan program pembangunan dalam pendidikan dewasa ini, yaitu yang berkenaan dengan peningkatan mutu dan relevansi pendidikan, yang diarahkan kepada peningkatan mutu lulusan atau hasil pendidikan itu sendiri. Dalam keadaan semacam itu, guru sudah seharusnya memiliki kualifikasi sesuai dengan bidang tugasnya.
Guru bukan hanya sekedar penyampai pelajaran, bukan pula sebagai penerap metode mengajar, melainkan guru adalah pribadinya, yaitu keseluruhan penampilan serta perwujudan dirinya dalam berinteraksi dengan siswa. H. W. Bernard (1961:127-128) menyatakan bahwa pribadi guru lebih dari apa yang diucapkan dan metode yang digunakannya yang menetukan kadar dan arah pertumbuhan siswa. Beliau juga mengemukakan bahwa banyak penelitian yang menyatakan adanya akibat langsung pribadi guru terhadap tingkah laku siswa.
Dalam keseluruhan pendidikan, guru merupakan factor utama. Dalam tugasnya sebagai pendidik,guru abnyak sekali memegang berbagi jenis peranan yang harus dilaksanakan. Peranan adalah suatu pola tingkah laku tertentu yang merupakan cirri-ciri khas semua petugas dari suatu pekerjaan atau jabatan tertentu. Setiap jabatan atau tugas tertentu akan  menuntut pola tingkah laku tertentu pula dan tingkah laku mana akan merupakan crri khas dari tugas atau jabtan tadi. Peranan guru adalah setiap pola tingkah laku yang merupakan ciri-ciri jabatan guru yang harus dilakukan guu dalam tugasnya. Peranan ini meliputi berbagai jenis pola tingkah laku, baik dalam kegiatannya di dalam sekolah maupun di luar sekolah. Guru yang dianggap baik ialah mereka yang berhasil dalam memerankan peranan-peranan itu dengan sebaik-baiknya, artinya dapat menunjukkan suatu pola tingkah laku yang sesuai dengan jabatannya dan dapat diterima oleh lingkungan dan masyarakat.
1.      Guru sebagai mediator kebudayaan
Guru merupakan seorang perantara di dalam suatu proses pewarisan kebudayaan. Beberapa keterampilan dan kecakapan yang merupakan aspek kebudayaan seperti: bahasa, ilmu pengetahuan, keterampilan sosial, sikap dan sebagainya diterima oleh anak dengan perantaraan guru. Dalam peranannya sebagai seorang mediator kebudayaan maka seorang guru harus sanggup memberikan, mengajarkan dan membimbing berbagai ilmu pengetahuan,keterampilan dan sikap kepada peserta didiknya. Seorang guru harus mampu membimbing peserta didiknya dalam penyesuaian diri terhadap lingkungan kebudayaannya. Perkembangan kebudayaan itu sendiri sering kali menimbulkan masalah-msalah bagi murid-murid, terutama masalah penyesuaian diri dan masalah pemilihan. Untuk itu hendaknya guru mampu memberikn bantuan kepada peserta didiknya dalam melakukan penyesuaian diri kepada unsure-unsur kebudayaan.
2.      Guru sebagai mediator dalam belajar
Guru bertindak sebagai perantara dalam proses pembelajaran secara keseluruhan. Guru lah yang menyelenggarakan pembelajaran peserta didik dan guru harus bertanggung jawab akan hasil pembelajran itu, melaluia proses interaksi belajar-mengajar. Guru merupakan faktor penting yang mempengaruhi berhasil tidaknya proses pembelajaran. Oleh karena itu guru harus menguasai prinsip-prinsip belajar, di samping menguasai materi yang akan di ajarkan dan guru juga harus mampu menciptakan suasana belajar yang sebaik-baiknya.
3.      Guru sebagai pembimbing
Dalam ugasnya yang pokok yaitu mendidik, guru harus membantu agar anak mencapai kedewasaan secara optimal,artinya kedewasaan yang sempurna sesuai dengan norma dan sesuai pula dengan kodrat yang dimiliknya. Dalam peranan ini guru harus memperhatikan aspek-aspek pribadi peserta didik, antara lain aspek kematangan, bakat, kebutuhan, kemampuan,sikap dan sebagainya, supaya kepada mereka ini dapat diberikan bantuan dalam mencapai tngkat kedewasaan optimal. Hal ini mengandung arti bahwa guru pun turut bertanggung jawab dalam penyelenggaraan bimbingan dan konseling.
Sebagai seorang petugas bmbingan, guru merupakan tangan pertama dalam usaha membantu memecahkan kesulitan murid-murid yang menjadi peserta didikya. Guru harus paling banyak dan sering berhubungan dengan murid-muridnya,terutama dalam kegiatan-kegiatan kurikuler. Jadi, tugas guru tidak hanya terbatas dalam memberikan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan kepada murid-muridnya, tetapi guru juga bertanggung jawab untuk membantu dan mengawasi peserta didiknya. Sehubungan dengan peranannya sebagai pembimbing, maka seorang guru harus :
a.    Mengumpulkan data tentang murid
b.    Mengamati tingkah laku murid dalam situasi sehari-hari
c.    Mengenal murid-murid yang memerlukan bantuan khusus
d.   Mengadakan interaksi dengan orang tua murid, baik secara individual maupun secara kelompok untuk memperoleh saling pengertian dalam pandidikan anak
e.    Bekerja sama dengan masyarakat dan lembaga-lembaga lainnya untuk membantu memecahkan masalah murid.
f.     Membuat cacatan pribadi murid serta menyiapkannya dengan baik
g.    Menyelenggarakan bimbingan kelompok maupun individual
h.    Bekerja sama dengan petugas-petugas bimbingan lainnya untuk membantu memecahkan masalah murid
i.      Bersama-sama dengan petugas bimbingan lainnya menyusun program bimbingan sekolah
j.      Meneliti kemajuan murid baik di sekolah maupun di luar sekolah.
4.      Guru sebagai mediator antara sekolah dan masyarakat
Ini berarti bahwa kelancaran hubungan antara sekolah dan masyarakat merupakan tugas dan tanggung jawab guru. Lancar tidaknya hubungan tersebut tergantung pada tingkat kemampuan guru dalam memainkan peranan ini. Dalam peranan itu, guru seharusnya mampu :
a.    Memberikan penjelasan-penjelasan kepada masyarakat tentang kebijaksanaan pendidikan yang sedang berlangsung atau yang akan ditempuh
b.    Menerima usul-usl atau pertanyaan dari pihak masyarakat tentang pendidikan
c.    Menyelenggarakan pertemuan-pertemuan antara sekolah dan masyarakat khususnya dengan orang tua murid
d.   Bekerja sama dengan berbagai pihak di masyarakat dalam memecahkan masalah-masalah pendidikan
e.    Meyelenggarakan hubungan yang sebaik-baiknya antara sekolah dengan lembaga-lembaga yang berhubungan dengan pendidikan.
f.     Guru merupakan suara sekolah di masyarakat dan suara masyarakat di sekolah
5.      Guru sebagai penegak disiplin
Dalam peranan ini guru harus menegakkan disiplin baik di dalam maupun di luar kelas. Guru harus menjadi teladan bagi terlaksananya suatu disiplin. Guru harus membimbing murid agar menjadi warga sekolah dan masyarakat yang berdisiplin. Guru harus menyiapkan murid-muridnya sebagai calon anggota masyarakat yang sadar akan hak dan kewajibannya sebagai masyarakat. Dalam peranan inilah seorang guru harus mencerminkan suatu tingkah laku sebagai anggota masyarakat yang dapat “digugu dand itiru” oleh segenp pesertadidik dengan penuh kesadaran.
6.      Guru sebagai administrator dan manager kelas
Sebagai administrator, tugas seorang guru harus dapat menyelenggarakan program pendidikan dengan sebaik-baiknya. Berbagai aspek yang menyangkut kelacaran jalannya pendidikan merupakan tanggung jawab guru. Guru harus mengambil bagian dalam hal perencanaan kegiatan pendidikan (planning), mengatur dan menyusun berbagai aspek dalam pendidikan (organizing), mengarahkan kegiatan-kegiatan dalam pendidikan (directing), melaksanakan segala rencana dan kebijakan pendidikana (actuating), merencanakan dan menyusun biaya (budgeting), dan mengawasi serta menilai kegiatan-kegiatan pendidikan (controlling dan evaluating).
Sebagai manager, khususnya sebagai manager kelas, guru merupakan penguasa utama dan bertanggung jawab terhadap kelancaran program pendidikan dan pengajaran. Dalam management kelas, guru berfungsi sebagai pemimpin yang harus memimpin murid-muridnya dalam kegiatan pembelajaran. Kepemimpinan guru di sekolah menentukan keberhasilan sekolah itu secara keseluruhan. Guru harus mengatur dan mengkoordinir jalannya program pendidikan agar memperoleh hasil yang sebaik-baiknya.
7.      Guru sebagai anggota suatu profesi
Suatu profesi adalah jabatan yang mempunyai kualifikasi tertentu. Pekerjaan guru sebagai suatu profesi berarti bahwa guru merupakan seorang yang ahli. Keahlian tersebut tidak dapat dilakukan oleh ahli-ahli atau pejabat-pejabat lain yang tidak memperoleh dasar pendidikan keahlian tersebut. Sebagai anggota suatu profesi, maka guru harus memiliki pengetahuan, kecakapan dan keterampilan tertentu yaitu keterampilan keguruan. Kemampuan untuk membimbing murid, merupakan salah satu aspek keterampilan profesi keguruan. Di samping itu, seorang guru harus menunjukkan, mempertahankan serta mengembangkan keahlian itu.
Peranan guru tidak hanya terbatas dalam kegiatan dalam kelas atau pengajaran saja, akan tetapi lebih luas dari itu. Guru memiliki peranan yang besar dalam mendewasakan murid-muridnya dengan berbagai cara. Salah satu diantaranya melalui partisipasi dalam program bimbingan dan konseling di sekolah.
3.      Kerja sama Guru Mata Pelajaran, Wali Kelas dan Guru Pembimbing
Dalam kegiatan belajar mengajar sangat diperlukan adanya kerja sama antara guru dan guru pembimbing demi tercapainya tujuan yang diharapkan. Pelaksanaan tugas pokok guru dalam proses pembelajaran tuidak dapat dipisahkan dari kegiatan bimbingan,sebaliknya, layanan bimbingan di sekolah memerlukan dukungan atau bantuan guru. Dukungan atau bantuan tersebut trutama dari guru mata pelajaran dan wali kelas. Ada beberapa pertimbangan mengapa guru juga harus melaksanakan kegiatan bimbingan dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini, Rahman Natawidjaya dan Moh. Surya (1985) mengutip pendapat Millen yang mengatakan :
a.    Proses belajar menjadi sangat efektif, jika bahan yang dipelajari dikaitkan langsung dengan tujuan pribadi siswa. Guru dituntut memahami harapan-harapan dan kesulitan-kesulitan siswa, selanjutnya siswa dapat belajar dengan baik
b.    Guru yang memahami siswa dan masalah-masalah yang dihadapinya, lebih peka terhadap hal-hal yang dapat memperlancar dan menggangu kelancaran kegiatan kelas. Guru berkesempatan luas untuk mengadakan pengamatan terhadap siswa yang diperkirakan memiliki masalah. Dengan demikian, masalah itu dapat diantisipasi sedini mungkin sehingga siswa dapat belajar dengan baik tanpa dibebani suatu masalah
c.    Guru dapat memperhatikan perkembangan masalah atau kesulitan secara lebih nyata. Guru memiliki kesempatan terjadwal untuk bertatap muka dengan para siswa, maka ia akan memperoleh informasi yang lebih banyak tentang keadaan siswa maupun kelebihan dan kekurangannya.
Layanan bimbingan di sekolah akan lebih efektif jika guru dapat bekerja sama dengan pembimbing sekolah dalam proses pembelajaran. Adanya keterbatasan-keterbatsan dari kedua pihak (guru pembimbing) menuntut adanya kerja sama itu
Di dalam menangani kasus-kasus tertentu, guru pembimbing perlu menghadirkan guru atau pihak-pihak terkait guna membicarakan pemecahan masalah yang dihadapi siswa. Kegiatan semacam ini disebut konferensi kasus (case conference). Kegiatan-kegiatan bimbingan dan konseling yang dilaksanakan di sekolah, dikoordinasikan oleh guru pembimbing. Pelaksanaan kegiatan bimbingan oleh para guru tidak lepas begitu saja,tetapi dipantau oleh guru pembimbing.
Kerja sama guru pembimbing dengan wali kelas sebagai pengelola kelas tentu angat erat dan besar sekali. Terutama membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa, khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya, untuk mengikuti/menjalani layanan dan atau kegiatan bimbingan dan konseling. Dengan kata lain, wali kelas membantu guru pembimbing melaksanakan tugas-tugasnya dalam pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah.
4.      Kerja sama antara pihak sekolah dan orang tua siswa
Dalam upaya meningkatkan mutu program layanan bimbingan dan konseling, pihak sekolah perlu melakukan kerjasama dengan para orang tua siswa. Kerjasama ini penting agar proses bimbingan terhadap siswa tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga oleh orang tua di rumah. Melalui kerjasama ini memungkinkan terjadinya saling memberikan informasi, pengertian, dan tukar pikiran antar pihak sekolah dan orang tua siswa dalam upaya mengembangkan potensi siswa atau memecahkan masalah yang mungkin dihadapi siswa.
 Untuk melakukan kerjasama dengan orang tua ini, dapat dilakukan beberapa upaya, seperti :
1.    Kepala sekolah atau komite sekolah mengundang para orang tua untuk datang ke sekolah (minimal sekali dalam satu semester), yang pelaksanaannnya dapat bersamaan dengan pembagian rapor.
2.    Sekolah memberikan informasi kepada orang tua (boleh melalui surat) tentang kemajuan belajar dan atau masalah siswa.
3.    Orang tua diminta untuk melaporkan keadaan anaknya di rumah kepada pihak sekolah,















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar